Skip to content

Kelapa Sawit Indonesia Jadi Andalan Ekonomi Nasional

Spread the love

Kebutuhan akan minyak nabati semakin meningkat di ranah lokal. Selain itu, ekspor minyak kelapa sawit juga semakin meningkat dan memicu pertumbuhan kebun sawit yang semakin pesat di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, lahan perkebunan sawit semakin bertambah berkali-kali lipat. Tercatat pada tahun 2019 perkebunan sawit di Indonesia mencapai 14,68 juta hektar. Hal ini sesuai data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Sedangkan data rekonsiliasi mengenai luas tutupan perkebunan sawit nasional menyentuh angka 16,38 juta hektar.

Kelapa Sawit Sebagai Komoditas Penopang Perekonomian Di Indonesia

Perlu diketahui bahwa produksi minyak sawit dan inti sawit totalnya mencapai 48,68 juta ton. Total produksi tersebut asalnya dari perkebunan besar negara, perkebunan sawit rakyat, dan perkebunan besar swasta.

Tercatat 70% hasil produksi sawit dialokasikan untuk kebutuhan ekspor sementara 30% lainnya digunakan untuk konsumsi masyarakat domestik. Komoditas sawit Indonesia menjadi salah satu penopang perekonomian nasional yang memberikan pengaruh cukup besar. Minyak sawit Indonesia menyumbangkan devisa hingga Rp289 triliun.

Hingga saat ini, minyak sawit merupakan salah satu komoditas andalan yang menyumbangkan devisa terbesar untuk negara. Bahkan kontribusi devisa sawit bersaing dengan kontribusi batu bara. Adapun tiga negara tujuan ekspor minyak sawit terbesar adalah India, Uni Eropa, dan Tiongkok.

Faktor Penyebab Industri Sawit Menjadi Andalan Ekonomi

Selain mengembangkan devisa kepada negara, ternyata industri kreativitas itu memberikan berbagai dampak positif lainnya. Berikut ini merupakan beberapa hal yang membuat industri sawit menjadi andalan ekonomi di tanah air.

  • Membuka Lapangan Pekerjaan

Ternyata industri sawit menjadi andalan ekonomi karena membuka lapangan pekerjaan yang cukup besar. Oleh karena itu, adanya industri ini tentu memberikan peluang untuk memberdayakan potensi SDM yang ada.

Pasalnya, sekitar 59% kebun sawit dikelola oleh perusahaan, sedangkan 40% sisanya dikelola oleh masyarakat. Perkebunan sawit milik masyarakat sudah terbukti membuka 2,3 juta lapangan pekerjaan.

Dalam hal ini, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memiliki tugas yang besar untuk meningkatkan kualitas SDM, khususnya terkait pengelolaan kebun sawit oleh petani.

Dibandingkan dengan petani sawit Malaysia, produktivitas petani sawit Indonesia masih lebih rendah. Dalam hal ini petani perlu memahami pemilihan bibit unggul produktivitas lebih meningkat.

  • Berkembang Pesat Di Indonesia

Di Indonesia perkebunan kelapa sawit berkembang sangat pesat dan merealisasikan terjadinya revolusi perkebunan sawit. Hal ini dapat ditandai dengan berkembangnya perkebunan sawit rakyat dengan sangat cepat, yaitu meningkat 24% per tahun dalam kurun waktu 1990-2015.

Perkembangan sawit tentu memberikan pengaruh positif terhadap keberhasilan dalam menarik perhatian beberapa negara di dunia terutama negara produsen minyak nabati. Indonesia dinobatkan sebagai produsen sawit terbesar di dunia yang mengungguli beberapa negara produsen lainnya sejak 2016.

  • Industri yang Bersifat Inklusif

Seperti yang telah diketahui bahwa dalam sisi ekonomi industri sawit memiliki kontribusi yang besar terhadap pembangunan berkelanjutan melalui penyumbangan devisa terhadap negara. Jadi komunitas sawit ini salah satu sumber pendapatan negara peningkatan pendapatan petani dan pembangunan ekonomi daerah.

Selain itu, industri sawit bersifat inklusif yaitu dapat menarik perkembangan pada berbagai sektor lainnya. Misalnya dari aspek sosial, ternyata terbukti empiris bahwa industri sawit berperan besar dalam mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan pembangunan desa, dan pemerataan pembangunan ekonomi.

Sementara dari aspek ekologi, industri sawit memberikan sumbangsih terhadap pembangunan berkelanjutan. Hal ini dilakukan melalui peran perkebunan sawit yang dapat menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida.

Lebih jauh lagi, ternyata perkebunan sawit juga dapat meningkatkan biomassa lahan. Dan bahkan, perkebunan sawit yang ada di lahan gambut ternyata dapat meminimalisir emisi gas karbon dioksida atau efek rumah kaca.

  • Sebagai Bahan Baku Biodiesel

Dapat dikatakan bahwa sawit menjadi sumber minyak nabati yang paling baik dijadikan sebagai bahan baku biodiesel. Pasalnya, satu hektar perkebunan sawit dapat memproduksi 3,5 ton minyak nabati. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tanaman kanola yang mana hanya dapat memproduksi 0,8 ton minyak nabati per satu hektar lahan.

Dari sawit inilah dapat dihasilkan dua macam turunan energi yang terbarukan yakni biodiesel serta bioetanol dan biogas.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komoditas kelapa sawit memiliki peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak heran jika pemerintah memberikan perhatian dan fokus yang lebih terhadap perkembangan lahan perkebunan sawit.